HUT ke-7 Semarang Sketchwalk, Pajang “Semarang dalam Gambar” dan Nyeket Bersama

Sarasehan Seni yang mengahdirkan nara sumber Chris Dharmawan (Owner Semarang Gallery), Widya Widjayanti (Pengamat Lingkungan dan Heritage), Ratna Sawitri (SSW) dimoderatori perupa Rudi Murdock dalam rangka HUT SSW ke-7 di Waroeng Kopi Alam, Semarang, Minggu (12/06/2022) (Chrisrian Heru)
Sarasehan Seni yang mengahdirkan nara sumber Chris Dharmawan (Owner Semarang Gallery), Widya Widjayanti (Pengamat Lingkungan dan Heritage), Ratna Sawitri (SSW) dimoderatori perupa Rudi Murdock dalam rangka HUT SSW ke-7 di Waroeng Kopi Alam, Semarang, Minggu (12/06/2022) (Chrisrian Heru)

TERASJATENG.ID, Semarang – Komunitas pesketsa Semarang Sketchwalk(SSW) kiprahnya di dunia seni rupa sudah 7 tahun. Kini keberadaan SSW merupakan salah satu komunitas pesketsa terbesar di Indonesia. Untuk merayakan hari lahirnya komunitas yang mengusung jargon “One sketch on a moment “ ini menggelar pameran bertajuk : “ Semarang dalam Gambar” . Helat pajang gambar ini ditaja di dua lokasi yakni; Waroeng Kopi Alam dan TAN Artspace, Semarang, mulai 12 Juni -26 Juni 2022.

Pameran yang dibuka oleh pengamat lingkungan perkotaan dan heritage Widya Wdjayanti, Minggu (12/06/2022) akan berlangsung hingga 19 Juni 2022 mendatang. Pembukaan pameran dihadiri founder SSW Harry Suryo dan Mick Lo dan tokoh-tokoh pemerhati , pelaku seni dari berbagai komunitas antara lain; Chris Dharmawan, Hardhono Susanto, Grace W Susanto, Agus Winarto, Sulis Banbang, Goenarso, Totok Koi, Bagus Widiyanto, Abdulah Ibnu Thalhah, dan banyak lagi.

Ketua SSW Ratna Sawitri dalam sambutannya berkisah tentang muasal berdirinya komunitas pesketsa Semarang ini. SSW tepatnya 20 Juni 2015 lalu. SSW diresmikan pendiriannya oleh istri Walikota Semarang Tia Hendi di Taman Sri Gunting, Kota Lama, Semarang. Tujuh tahun Semarang Sketchwalk (SSW) berkiprah menancapkan eksistensi di dunia seni rupa.

“Tujuh tahun sudah bergulat bersama, srawung dan nyeket bareng, dan tumbuh bersama. Sebuah rentang waktu yang cukup lumayan lama. Apalagi dengan memikul beban menjaga kebersamaan dan konsistensi dalam berkarya. Mudah-mudahan tetap langgeng ujar Ratna Sawitri.

Ratna Sawitri, lebih lanjut, membabar kisah sejarah Semarang Sketchwalk. SSW berdiri diawali dengan perbincangan LK Bung (Sketser Surabaya), Heti Palestina (Penulis dan Pemerhati Seni dari Surabaya) , Yudi Prasinto (Ketua ArsiSKETur), Tatas Sehono, Harry Suryo, Mick Lo, Yudi Mahaswanto, Sugiarto (Ketua IAI Jateng) . Dari perbincangan ini kemudian tercetus untuk menggelar event International Semarang Sketchwalk (ISSW)..

“Maka pada tanggal 20 Juni 2015, komunitas SSW diresmikan oleh ibu Tia Hendi. Pada saat pembentukan komunitas SSW, saya (Ratna Sawitri) juga Krisna Wariyan, dan beberapa sketser lain hadir,” beber Ratna Sawitri.

Ketua Pelaksana Hajat Arief Maulana menambahkan, kegiatan peringatan hari jadi SSW dimarakkan dengan berbagai event, yaitu, pembukaan sekaligus pembukaan Pajang Karya Bersama da Sarasehan Seni bertempat di Waroeng kopi Alam (12/06), Tasyakuran dan Menggambar Bersama di Kota Lama (19/06) dan penutupan akan berlangsung di TAN Artspace (26/06).

Kegiatan pajang gambar, lajut Arief Maulana yang juga sekretaris SSW, memajang 48 karya pesketsa yaitu; di Waroeng Kopi Alam 26 Peseketsa terdiri dari; Adem, Harry Suryo, S.Hartono, Dony Hendro, Krishna Wariyan, Mona Palma, Djoko Susilo, Klowor Waldiyono, Budi Sudarwanto, Emmerita , Nandia Nanda, Ditya Naumila, Rudi Hartanto, Henny, Nanang Widjaya, Agus Budi Santoso dan Ratna Sawitri. Sedangkan di TAN Artspace terdiri dari 22 pesketsa;. Tatas Sehono, Arief Maulana, Broto Hastono, Ade Guntur, Irene Indriasari, Cyndo, Riva, Tania, Hana, Tiyok Kustiono, Agung Dwi, Dessaf, Bambang Is Wirya, Rudy Murdock, Gunawan Wibisono , Mbah Gagoek, Chandra Capung, Franky Jo, Dhani William, Mike Lo, Levina dan Aryo Sunaryo.

Sarasehan Seni

Sarasehan yang menghadirkan pengamat seni rupa sekaligus pemilik Semarang Chris Dharmawan dan pengamat Lingkungan dan Heritage Widya Widjajanti dimoderatori Rudi Murdock berlangsung dengan gayeng.

Chris Dharmawan mengatakan, menurut oengamatannya selama tujuh tahun perjalanan Semarang Sketchwalk bertumbuh signifikan. Disebutkannya, kalau karya-karya beberapa individu sudah punya bentuk ucap yang khas. “Saya amati beberapa anggota karya-karyanya sudah memiliki karakter dan kekuatan sebagai sebuah karya sketsa,” tandas Chris Dharmawan.

Menurut Chris Dharmawan, karya sketsa kalau digarap dengan serius dan berkarakrer juga tak kalah dengan karya lukisan. Dicontohkan, beberapa perupa Indonesia yang kuat goresan sketsanya antara lain; Ipe Ma;ruf, Sri Hadi Soedarsono , Nyoman Nuarta dan banyak lagi. “Sketsa mereka kuat dan dakui sebagai karya fine art juga. Untuk itu, ke depan para pesketsa SSW bisa melakukan pendalaman dalam karya sketsanya,” imbuh Chris Dharmawan.

Sementara itu, Widya Widjajanti, mengatakan, kehadiran komunitas Semarang Sketwalk patut diapresiasi. Pasalnya, komunitas SSW ini selain travelling memperkenalkan sudut-sudut Kota Semrang yang kaya dengan warisan sejarah dan budaya juga mendokumentasikan tempat-tempat yang jadi memori kolektif banyak orang.

“Saya paling terdepan mengapresiasi keberadaan SSW. Semoga ke depan SSW makin bertumbuhkembang tetap konsisten kiprahnya membukukan sejarah kota yang terkadang diabaikan orang bahkan oleh kalangan yang berkompeten,” pungkas Widya Widjayanti. (Christian Heru)