Pasar Ceret Hanya Ada di Solo

  • Bagikan

Bagi pelancong dari luar kota Solo, nama pasar tradisional yang satu ini memang terdengar aneh, Pasar Gembreng. Tak banyak warga yang tahu pergantian sejumlah nama pasar di Kota Bengawan ini. Coba saja tanyakan pada masyarakat Kota Solo, dimana letak Pasar Gembreng berada? Mereka hanya tahu pasar yang menggelar dagangan tak lazim, seperti ceret, kompor minyak, wajan, dandang besar hingga kubah mesjid dulunya bernama Pasar Kabangan.

Tidak hanya rakyat biasa yang tidak mengetahui sejarah pasar Gembreng, tetapi juga pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo maupun anggota DPRD.

“Dulu itu namanya Pasar Laweyan, terus ganti jadi Pasar Kabangan. Tapi kalau sekarang istilahnya Pasar Gembreng, malah baru dengar,” ujar mantan Ketua DPRD Kota Solo, YF Sukasno, di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. “Itu pasti istilahnya pedagang yang nutuki –memukul drum bekas– biar mudah jadilah Sar Gembreng.”

Seseuai namanya, pasar Gembreng, terletak di daerah Solo Barat, di sebelah utara balai kampung Laweyan. Sebelum dikenal sebagai Sar Gembreng, pasar ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Menempati luas lahan sekitar 3.660 meter, pasar yang dibangun sejak pemerintahan Paku Buwono IX dulunya dikenal sebagai Pasar Laweyan.

“Dulunya, pasar Kabangan juga jualan bumbu pawon –bahan keperluan dapur – tapi setelah ada pindahan pedagang blek bekas dari Pasar Kadipolo, namanya berubah jadi Sar Gembreng,” ujar Sukasno

Ditemui terpisah, seorang warga asal kampung Mutihan, Warsono, 67, menuturkan pasar Gembreng dulunya berdekatan dengan tempat pemakaman umum Kampung Lor Pasar Laweyan. Pada tahun 1963, tutur dia, njaratan itu sudah dipindah dan pasar Laweyan berganti nama menjadi Kabangan.

“Dulu sebelahnya ada tempat pemakaman. Kemudian udah dipindah, sejak itu pasar Laweyan ganti jeneng Kabangan. Terus pedagang barang bekas buat dandang, ceret dari seng di Pasar Kadipolo pindah kesini,” tutur dia.

Kedatangan para pedagang pindahan dari Pasar Kadipolo, ujar Warsono, pasar Kabangan berubah total. Sejak itulah pasar tradisional berubah sepi. Penjualan sembako dan sayur-sayuran anjlog. Pedagang kios daging dan kain, ikut tergusur penjual peralatan dari seng.

“Semua tidak tahan dengan bunyi di bengkel setiap hari memukul drum bekas dibuat ceret dan dandang dari seng. Suaranya keras setiap hari begitu,” ujar dia, “meski dodolan ceret, dandang dan angklo toh banyak orang nyari keperluan wedangan di sini.”

Itulah sebabnya, pasar blek yang bisin bunyi-bunyian gembreng dipukuli menjadi daya tarik wisatawan asing. Barangkali bunyi aneh di telinga wong Londo itulah menjadi daya tarik tersendiri bagi bule melihat dari dekat pergulatan perajin setiap hari.

“Pertama saya heran. Ketika diajak teman untuk melihat pasar di sini. Bagaimana tidak heran, pasar tapi sepi pembeli, jelas lain dari pasar biasa,” ujar Mathew, “Londo” asal Jerman, “sama halnya orang berbisik-bisik menyebut saya Londo. Maaf saya orang Jerman, bukan dari Belanda.” Horog.

Seorang warga penjual barang di “Kios Bu Wagiyem” berharap agar pasar gembreng tidak digusur dan dijadikan mall. Dulu meang terdengar gaung akan dijadikan mall dan hotel, toh kini pasar satu-satunya yang jualan tunggu dari bahan gembreng hanya ada di Solo. Soalnya, menurut pendengaran Wagiyem, denger-denger pasar Gembreng akan dijadikan mall. “Lha kalau di bekas pabrik es Saripetojo sudah dibangun mall, mosok di sini akan dibangun lagi. Lagi pula nanti tidak akan ada Londo bingung menonton drum bekas dipukuli bikin budek telinga. Itu’kan namanya wis edan.” (Eddy Je Soetopo)

  • Bagikan