Tradisi Titiran, Mengenang Kisah Heroik di Kampung Batik Fragmen Pertempuran Lima Hari di Semarang

  • Bagikan

TERASJATENG.ID — Warga masyarakat Kampung Batik Tengah, Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur, Kota Semarang menggelar tradisi titiran, Minggu (17/10/2021. Kegiatan yang dihadiri Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu meski di era pandemi berlangsung hikmat dan meriah.

Kegiatan digelardi Kaapung Batik Djadoel dalam rangka mengenang 76 Tahun Pembakaran Kampung Batik ini ditaja dengan seni pertunjukkan teatrikal yang menggambarkan saat terjadinya Pertempuran Lima Hari di Semarang yang berujung pembakaran Kampung Batik Semarang saat itu.

Para pelakon pertunjukkan teaterikal dari warga setempat dibawah arahan sutradara pmerhari sejarah yang juga jurnalis Chandra mengenakan kostum pendudukung yang menggambarkan pada masa penjajahan Jepang ada yang memakai busana tradisional tradisional Jawa, kostum tentara Jepang, dan tentara Indonesia. Ada juga barisan warga yang membawa pataka bendera merah putih, obor, membawa pintu kayu, sebuah pintu kayu warga yang tertembus peluru Jepang saat penyerangan.

Lalu ada kelompok ibu-ibu membawa gentong air, yang diambil dari sumur dari Kampung Batik Gedong yang jaman dulu tempat mengambil air untuk memadamkan ketika terjadi pembakaran rumah warga oleh tentara Jepang. Artefak sumur peninggalan itu hingga kini masih difungsikan untuk sumber air warga setempat.

Fragmen teatrikal yang dipandu dengan narasi yang disampaikan Chandra dimulai dengan pembkaran replika bangunan rumah Kampung Batik yang diserbu lalu dibakar oleh tentara Jepang. Para warga kampung lalu bergotong royong memadamkan api dengan air yang bersumber dari sumur kampung yang hingga kini masih ada artefaknya menjadi salah bukti sejarah kampung batik.

Peristiwa pembakaran Kampung Batik terjadi pada hari keempat pertempuran lima hari Semarang. Dalam sejarahnya Kampung Batik Semarang saat itu jadi bagian dalam siasat pertempuran lima hari Semarang. Jepang yang mengawasi kegiatan di Kampung Batik dari Gereja Gedangan, lalu menyerbu dan membakar rumah-rumah di Kampung Batik. Jepang menembaki rumah warga hingga tembus pintu-pintu lalu membakar sekitar 200an rumah. “Dua saksi bisu sejarah 76 tahun yang lalu itu masih ada, yakni pintu yang tertembus peluru dan sumur yang masih ada dan dimanfaatkan hingga sekarang. Ini mengingat sejarah dan kebangkitan paska kebakaran sehingga bisa melaksanakan kembali kegiatan sehari-hari,” kisah Chandra.

Kedepan, lanjut Chandra, Tradisi Titiran akan jadi agenda tahunan sebagai potensi wisata kegiatan kreasi seni masyarakat setempat. “Dulu peringatan hanya dilakukan dengan sederhana hanya berdoa bersama, kali ini dibuat kreasi ada unsur seni agar lebih menarik dilihat dan ditonton,” imbuh Chandra

Sementara itu, Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, dalam sambutannya sangat mendukung adanya tradisi Titiran. Ia mengaku baru tahu ada sejarah cerita Tradisi Titiran ini.

“Ini bagus sekali, karena saling berkait dengan yang di Tugu Muda dan sekitar ini, ada gereja Gedangan juga, bisa dicari benang merahnya, ” kata Mbak Ita, sapaan akrabnya.

Atraksi seni budaya ini, kata dia, tentunya akan menambah daya tarik wisata Kampung Batik Semarang di Kampung dJadoel ini. Kedepan, pemerintah kota akan memfasilitasi adanya lapangan parkir yang representatif dengan memanfatakan bekas lahan SMP 4 Semarang. “Kalau wisatawan ini datang akan menjadikan masyarakat di kampung djadoel lebih sejahtera,” pungkas dia.

Pada kesempatan itu, karena perhatiannya kepada kampung batik dan juga batik Semarang Wawali Hevearita dinobatkan menjadi “Mbok Batik” dengan bukti penyerahan plakat dan juga` selendang batik Semarangan dari masyarakarat setempat.

Tokoh masyarakat setempat, Luwi yang mandegani kegiatan ini, mengatakan, harapannya ke depan Kampung Batik Djadoel ini lebih dikenal oleh wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara. “Kampung batik memang bnyak termasuk di Semarang, tetapi kalau Kmapung batik Djadoel, ya, hanya di sini,” tandas Luwi.

Christian Heru

  • Bagikan