Webcam Video Seks Menjamur di Musim Pandemi Covid

  • Bagikan

Inilah kelakuan pengguna media siber berbasis internet menggunakan VPN yang sangat menakutkan sekaligus membahayakan generasi muda pemakai hand phone yakni jejaring websex internasioal.

Setidaknya terdapat lebih dari 8 jaringan video websex dipromosikan lewat jaringan VPN multi dimention picture life streaming. Jangan tanya berapa jumlah penoton jejaring yang kini semakin membelah jagad, meski saat ini negar manapun lagi dirangsek pandemi virus Covid-19. Justru mereka malah suka, lantaran warga masyarakat tidak boleh bergerombol beramai-ramai di tempat keramaian seluruh mall di kota besar dunia. Sebaiknya Anda tak perlu bertanya siapakah geraga pengunggah video life sex hingga seluruh warga sejagat keranjingan menonton film mengasyikkan sekaligus menjijikkan itu.

Tidak ada yang tahu pasti, berapa kali tontonan esek-esek itu dirambah dan dipentelengin lalu disebar-luaskan diantara penggemar film biru bebasis triple star. Menurut hasil riset  Sexual Safety Education Policy for Young, di AS, pengguna jalur ‘hijau’ jejaring video sex nampaknya semakin menakutkan sebagian besar warga yang tinggal di kota-kota besar dunia.

ukan hanya di belahan bumi di Eropa, pengaruh buruk kecanduan ngeliatin video syur itu juga telah merambah ke daratan Asia, termasuk Jepang dan Asia lainnya. Termasuk negri jiran dan negara tetangga di Indonesia, semua video seperti itu tersebar lewat jejaring hand phone.

Bila pada tahun 80-an video porno semebar lewat pirig cakrm VCD dan DVD di lapak-lapak seputar Glodok Jakarta, sekarang tidak musim lagi bila ingin ngiler lihat film biru tidak harus lewat keeping cakram. Cukup minta keluargamu gaget perkasa berbasis ram besar, Anda sudah bisa ngelihat sampai beleken. Jadi jangan heran bila gebetanmu minta dibeliin hand phone dengan ram gede dan mimiliki video camera, gak usah jengkel.

“Eloe pelit banget, jangan-jangan gebetanmu kamu beliin hand phone jadul Nokia-210. Mau cari enaknya saja, beliin gaget yang baru dong. Gwe beliin apa dari Moscow,” kata Nicole Crigis sembari ngomel-ngomel nerusin liputan indepth di luar negeri. “Besok setelah lebaran saya ke German, mau dibeliin apa, Ericson lawas gimana,” katanya ngelucu.

Persoalan lain mencuat ketika semakin marak video seks lewat webcam kini telah menjadi idola anak remaja tujuhbelasan tahun, usai sekolah menengah atas, atau mahasiswi –harap maklum para pelaku dan pelihat tontonan sex mayoritas pria juga digemari anak perempuan pembawa hand phone di sakunya– biar dikatakan modern dan tidak ketinggalan jaman. Lebih cilaka lagi bila kondisi tersebut, kini tak lagi ditutup-tutupi bila mereka pernah menyatap tontonan di layar hand phone atau kalua kurang besar bias dlihat di laptop. Mereka itu, bias saja berdalih pada keluarganya memerlukan perngkat yang lebih canggih untuk kuliah sembari kerja tentu.

Nah, istilah kuliah sembari kerja itulah yang justru menjadi absurd di mata peneliti sosial Institute for Media and Social Studies (IMSS), Eddy J Soe. Menurutnya, dengan dalih kuliah sambal kerja tentu dianggap prestise tidak hanya oleh orangtua mereka, tetapi juga menjadi kebanggaan yang acak-adut, keliru parah. Bagaimana mungkin di saat semua kampus sedang tutup pintu dan mengharuskan mahasiswanya kuliah online, tetapi masih saja ada alasan kuliah nyambi bekerja. “Persoalannya, bukan hanya orang tua mereka dibohongi, tetapi juga melecehkan peran bokap-nyokapnya dianggap bego,” katanya.

Efek domino tali-temali kecaggihan teknologi tidak diimbangi dengan kemampuan berlogika menggnakan nalar dengn baik, tentu saja menjadi tak imbang. Disatu pihak, kemajuan pesat ilmu pengetahan dan teknologi tidak bias dihentikan oleh siapapun, dipihak lain tidak dibarengi kepiawaian menggendalikan emosi yang ada pada diri pribadi masing-masig orang. Ujung-ujungnya ketimpanga antara kecanggihan teknologi dan narar mengendalikan emosi, menjadi semakin parah. Bagaimana kita bisa mempercayai anak kita, bila mereka justru tidak menggunakan gaget untuk keperluan belajar, atau berkomunikasi antarsesama temannya bila tidak kita control dengan ketat.

Menurut Nicole dari Moscow, pengawasan tidak ketat seperti itulah hand phone atau laptop yang seharusnya buat belajar, justru lebih banyak dipakai untuk melihat dan mendownload film-film biru dari negara lain. “Kalau sudah begitu, yang disalahkan negara lain. Ngomong ‘pantesan negara tidk beragama, pakai cap komunis segala. Itu’kan gila dan salah kaprah banget. Mestinya nyokap-bokapnya dong yang disalahin, mengapa mereka tidak ngawasi penggaan gaget dan laptop,” kata dia.

Meskipun tidak setiap hari ngelihatin film biru lewat hand phone atau laptop, ujar Nicole lebih lanjut, sedah menjadi keharusan pemerintah perlu mengawasi jejaring yang dikendalikan oleh jaringan videoweb internasional menawarkan film pendek esek-esek. Mestinya aparat pengawas lalulintas kedirgantaraan dunia maya, perlu lebih ketat mengawasi situs-situs porno yang tertancap di website berskala kaliber canggih dan kuat memasarkannya. Sepertinya jaringan polisi siber di Indonesia juga sudah memiliki kecanggihan mumpuni untuk menghadang situs seks dari luar negeri.

“Bisa banget situs-situs semacam itu dimatikan. Kan ada penyedia web broser dalam negri. Tinggal klik kan beres. Mosok anak-anak itu menyewa web-broser lewat jejaring luar negeri. Sebenarnya gampang sih kalua mau mematikannya. Kecuali mereka juga suka mentelengin gambar biru yang ngehot dan komplit itu.” Tinggal milih nonton setengah bintang film seks setengah tua, remaja dari Jepang, apa yang berambut blonde. Tinggal klik pakai mouse beres semua. Kagak ngajarin sih.

Eddy J Soetopo

 

  • Bagikan